BANDA ACEH - Masyarakat Gampong Cut Nyong, Kecamatan Bandar Baru, Pijay, kini kembali membudidayakan udang windu. Hasil dari budidaya udang jenis tersebut oleh kelompok petani tambak Saweu Gampong di desa tersebut telah memperoleh hasil yang cukup memuaskan.

Setelah ikut menyaksikan panen udang di Gampong Cut Nyong, Direktur Produksi Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Coco Kokarlin MSc mengatakan, hasil yang diperoleh kelompok tani tersebut sangat memuaskan.

“Dari areal tambak seluas 2.000-5.000 meter bisa menghasilkan udang windu 2.500 kg, ini merupakan hasil yang cukup memuaskan,” katanya Coco Kokarlin. Direktur Produksi Dirjen Perikanan Budidaya itu mengatakan, setelah terjadi bencana tsunami 10 tahun lalu di Aceh, jarang sekali ada laporan petani tambak di Aceh yang membudidaya udang windu secara intensif.

Sebelum terjadi bencana tsunami, lanjut Coco, udang windu memang merupakan salah satu komoditi ekspor unggulan sektor perikanan di Aceh. Tapi, setelah banyak tambak udang yang rusak dan udang terserang penyakit virus MBV, membuat minat petambak untuk mengembangkan usaha tambak jadi menurun drastis.

Diakui Coco, beberapa tahun terakhir, muncul varitas udang baru dari luar yang dikenal dengan udang panami atau udang putih. Tapi, karena rasa udangnya tidak selezat udang windu, dan kurang begitu disukai konsumen lokal maupun luar negeri, budidaya tidak berkembang.

Coco mengatakan, keberhasilan kelompok tani tambak Saweu Gampong, Desa Cut Nyong mengembangkan udang windu ini, berkat bimbingan mantan Kepala Dinas Keulatan dan Perikanan Aceh, dan pendamping dari sejumlah staf ahli Balai Perikanan Budi Daya Air Payau (BPBAP) Ujong Batee, Aceh Besar.

Keberhasilan kelompok petani tambak Saweu Gampong di Desa Cut Nyong, Kecamatan Bandar Baru, Pijay, akan memotovasi para petambak lainnya untuk mengembangkan budidaya udang windu. Karena harga udang windu saat ini di pasaran lokal dan nasional cukup tinggi.

Untuk ukuran 10 ekor/kilogram harganya mencapai Rp 220.000. Sedangkan untuk ukuran 90 ekor/kilogram di pasaran lokal harganya tidak kurang dari Rp 40.000-Rp 50.000/kg. Kesuksesan kelompok tani tambak Saweu Gampong itu dalam memproduksi udang windu, kata Coco, sudah direkam dan akan ditayangkan ulang dalam rapat evaluasi pembangunan bidang perikanan budidaya tambak udang pada Kementerian Kelautan dan Perikanan bulan depan.

Coco berharap, keberhasilan petani udang di Pijay mengembangkan kembali udang windu, harus menjadi contoh bagi petani tambak udang lainnya, tidak hanya di wilayah Aceh, tapi juga di luar Aceh, yang memiliki areal tambak sangat luas. (/serambinews)