PIDIE JAYA - Petani garam yang menerapkan cara integrasi di Gampong Lancang Paru, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya memperoleh omset puluhan juta setiap bulannya. "Lebih kurang tiga bulan kita sudah menerapkan cara seperti ini. Allhamdulillah dalam tiga bulan ini kami telah menghasilkan garam 38 ton," kata petani garam integrasi di gampong tersebut, Jafar kepada AJNN, Selasa (25/6). Jafar yang juga merupakan keuchik (kepala desa) gampong setempat menjelaskan, per kilo garam tersebut dijual Rp 3.800. Jika dikalkulasikan, maka omset yang diraup petani garam tersebut tidak kurang dari Rp 144 juta, atau 48 juta setiap bulannya.

 

Ia menambahkan, dari usahanya tersebut, ia dapat mempekerjakan tiga hingga empat orang. Pendapatan para pekerja tersebut juga melebi upah minimum provinsi (ump) Rp 2.9 juta setiap bulan. "Dalam sembilan hari, pekerja pada usaha garam saya bisa memperoleh Rp 1.9 juta per pekerja," jelasnya. Sementara itu, Wakil Bupati Pidie Jaya, Said Mulyadi yang memantau usaha garam masyarakat di gampong itu menyebutkan, potensi sumber daya ekonomi masyarakat petani garam tersebut sangat menjanjikan.

Pria yang biasa disapa Waled itu menambahkan, pihaknya melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) akan terus mengupayakan bantuan untuk warga, khususnya warga pesisir yang berprofesi sebagai petani garam. "Kami akan terus mengupayakan untuk masyarakat hal-hal yang seperti ini, karena kami melihat pertumbuhan ekonomi dari segi petani garam sangat bagus," imbuh Waled. Untuk diketahui, pugar atau usaha garam rakyat dengan cara integrasi itu adalah bantuan pemerintah melalui DKP Pidie Jaya. Tahun 2020, pemerintah setempat mengusulkan 200 hektar lebih untuk dijadikan pugar. (AJNN.net/Muksal Mina)